Kisah Kepahlawan Uskup Pertama di Jawa akan Difilmkan



Uskup Mgr Albertus Soegijapranata

Kepahlawanan Uskup Jawa Difilmkan
Sabtu, 5 November 2011 | 09:45 WIB

SEMARANG | SURYA Online – Sebuah film sejarah dan kepahlawan berjudul “Soegija” mulai diproduksi dengan mangambil lokasi di Gereja Gedangan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (4/11/2011). Film ini mengangkat ketokohan Uskup Mgr Soegijapranata pada era perjuangan kemerdekaan Indonesia tahun 1940-1949. Soegijapranata sendiri merupakan tokoh Katolik pribumi Jawa yang pertama kali menjadi uskup serta dikenal sebagai seorang pahlawan nasional.

Film yang telah direncanakan sekitar tiga tahun lalu oleh Studio Audio Visual Puskat akhirnya diproduksi dengan menggandeng sutradara Garin Nugroho.Film ini menggandeng sejumlah artis dan seniman seperti Nirwan Dewanto, Butet Kertaradjasa dan Olga Lydia. “Soegija” dengan biaya produksi sekitar 12 miliar ini merupakan film termahal yang pernah dibuat Garin Nugroho. “Ini juga merupakan sebuah film tersulit yang pernah saya buat karena harus menyediakan set pada era 40-50,” kata Garin.

Garin juga mengungkapkan bahwa film ini menjadi sangat penting karena memberikan pesan yang mendalam tentang sebuah kepemimpinan. Film dengan penata musik Djaduk Ferianto nantinya tidak berbicara mengenai agama Katolik melainkan lebih banyak tentang pesan universal dan kemanusiaan. Dari film inilah menurut Garin Nugroho bangsa Indonesia akan belajar tentang kemanusiaaan dan multikulturalisme.
http://www.surya.co.id/2011/11/05/ke…jawa-difilmkan


Tim pendukung film berjudul “Soegija” saat memberikan keterangan pers di Gereja Katolik Gedangan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (4/11). Film yang diproduseri Studio Audio Visual Puskat dengan sutradara Garin Nugroho ini mengangkat kisah kepahlawanan Mgr Soegijapranata SJ pada masa tahun 1940-1949.

‘Soegija’, Film Termahal Garin Nugroho
Jumat, 04/11/2011 17:00 WIB

Jakarta – Garin Nugroho dipercaya membuat film yang mengisahkan kiprah uskup pribumi pertama di Indonesia, Mgr Soegijapranata. Film berjudul ‘Soegija’ itu merupakan film termahal Garin dengan biaya sekitar Rp 12 miliar. “Biayanya dua kali lipat Opera Jawa. Ya, ini film termahal saya,” kata Garin dalam syukuran persiapan syuting di Gereja Katolik Gedangan, Jalan Ronggowarsito Semarang, Jumat (4/11/2011).

Film yang ber-setting tahun 1940-1949 ini melibatkan 500 pemain dan 200 kru. Lokasi syutingnya di Semarang, Ambarawa, Klaten, dan Yogyakarta. Garin menilai ketokohan Soegijapranata sangat penting. Tidak hanya bagi umat Katolik, melainkan bangsa Indonesia. Tokoh ini mempunyai peran siginifikan dalam masa-masa krisis, menjelang dan awal-awal kemerdekaan.

Dalam sejarahnya, Soegijapranata diketahui menulis untuk media luar negeri sebagai bentuk silent diplomacy terhadap penjajah. Ia juga memindahkan Keuskupan Semarang ke Yogyakarta sebagai bentuk solidaritas atas kepindahan ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta, dan bernegosiasi dengan Jepang untuk gencatan senjata. “Konteksnya memang perang, tapi bukan perangnya, tapi babak-babak kesejarahannya,” katanya.

Sebelum menggarap film “Soegiya”, Garin melakukan riset, baik mengenai peran publik maupun kehidupan pribadi si tokoh. Ia ingin tokoh tersebut hadir sebagaimana konteks jamannya. Syuting film akan dimulai 7 Nopember mendatang di Semarang. Dimulai dengan adegan pentasbihan uskup hingga pertempuran 5 hari di Semarang. Syuting direncanakan usai pada 14 Nopember, lalu dilanjutkan ke beberapa kota lain di Jateng dan Yogyakarta.

Soegija diperankan Nirwan Dewanto, didukung presenter dan pemain sinetron Olga Lidya dan lain-lain. Untuk musik diserahkan ke Djaduk Ferianto. Diperkirakan Juni 2012, film ini bakal tayang di bioskop.

Kabinet Macan Tutul

Banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan bentuk pemerintahan RI yang terus berlarut-larut dalam keterpurukan ekonomi. Semakin parah sistem ekonomi, semakin bermunculan istilah-istilah penanda dan mencirikan pola pemerintahan yang tidak terencana, bahkan terkesan berpura-pura membangun negara. Dari pembuatan undang-undang, sosialisasi sampai praktek di lapangan, tidak pernah tertata dengan baik.

Uji materi undang-undang selalu berat sebelah, draf yang punya peluang kompromi yang bisa menang.  Kasus import sembako, garam, gula, buah-buahan dll.. bukti pemerintah tidak peduli rakyat yang memiliki berhektar-hektar tanah siap garap. Ini pertanda materi uji berkaitan komoditas vital hanya orang-orang kaya dan yang dekat di kursi pejabat yang diuntungkan. Pola transaksi yang kerap dilakukan seperti umpan ikan, yang penting disepakati soal marjin profitnya meskipun teramat kecil asal rutin ga jadi masalah dan yang tau kita (baca: pejabat) rakyat yang penting ngikut aja.

Pelanggaran melenakan dalam konteks  peningkatan pembangunan nasional yang lantang pesan sponsornya di gedung DPR atau di arena kampanye pemilu/pemilukada. Fripott contoh paling nyata rendahnya tingkat moral pejabat kita yang tidak mampu membuat keputusan yang menguntungkan. Kekayaan alam adalah aset tetap kebanggaan bangsa sekaligus deposito negara dengan prioritas hasil produk yang menguntungkan secara merata bagi segenap rakyat. Ketakutan mengubah format yang telah disepakati bersama, sebesar ketakutan pemerintah akan ancaman teroris. Padahal nyata-nyata sangat merugikan.

Dengan pertimbangan seperti ini, pola yang dipakai bagaimana limpahan sumber alam yang terpendam bisa tergali bukan bagaimana pemanfaatannya bisa maksimal. Sederhana saja, mengukur tingkat kepekaan moral sudah terbaca dari bagaimana penilaian hasil karyanya. Pola seperti ini pula, nyaris memberikan ruang nyaman bagi pejabat kita untuk berbagi keuntungan dan semua yang menjadi perangsang terjadinya kesepakatan, tentu modus Iming-iming atau menjanjikan sesuatu yang mewah adalah alat yang masih laku dijual belikan. Indonesia sampai detik ini di peringkat utama dalam ketekunan merawat modus ini dengan baik, sehingga pantas diwariskan anak-anak bangsa sebagai generasi penerus mereka.

Konsep ini secara kebetulan diadopsi dari masyarakat prrimitif yang tidak mengenal budaya dan tidak pernah belajar di sekolah. Hanya semata-mata kebutuhan perut yang mereka kejar sambil membunuh satu sama lain. Ironi sekali, kalau saja penegak demokrasi dan penyelenggara negara berperadaban masih terus meng-cloning budaya masyarakat purba animistis ini. Ketakutan Kancil terhadap ancaman serangan Macan tutul atau Cetta secara tiba-tiba dapat dibenarkan, ketika diri mereka tengah berada dalam bahaya.  Namun, kawanan Kancil tak mungkin mengelak saat semakin sadar bahwa ancaman gerombolan Macan dipengaruhi sifat rakus dan narsisme pamer keberanian (baca: kekayaan), dan karena itu si Kancil harus segera mencari tempat perlindungan meskipun pada akhirnya tempat persembunyiannya pun tercium juga.

Dengan kebijakan lain yang tersa indah, subsidi BBM, TDL (tarif dasar listrik), kemungkinan harga gas melonjak, bahan-bahan sembako tidak dapat ditekan kestabilannya, semua itu dan masih banyak kawannya, tidak dapat mengubah kemiskinan, gelandangan, dan kaum marjinal untuk hidup lebih baik. Perubahan terjadi hanya sebatas angka saja. Dari data-data berdasarkan survei yang dilakukan lembaga-lembaga terpercaya, seperti LSI dan Lingkar survei Indonesia, membenarkan tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja Kabinet Macan tutul ini semakin berkurang. Mereka tau hasil survei ini atau tidak, yang jelas, tingkat absensi kepedulian dan partisipasi masyarakat telah hilang dalam setiap kasus yang masuk ruang pengadilan yang bersinggungan dengan pejabat di semua tingkat dan di seluruh departemen. Logo yang mungkin pantas diangkat, ‘negara dalam kabut pembangunan yang semakin tebal ‘.

Alih-alih menyalakn lampu kuning reformasi, negara dari hari kehari semakin dibiarkan berjalan dalam kepentingan negara lain. Secara geografis, Indonesia bagian dari negara yang ada di dunia dengan tanda peta dunia yang teramat jelas, tapi, secara politis tidak ada. Kemampuan membangun dan mengembangkan adalah bagian inti sebuah proyek dan produk yang penting, dimana lemah kuatnya konstruksi proyek atau ada tidaknya sebuah proyek bergantung sangat kokoh atas kemampuan membangun dan mengembangkan. Andai dua kemampuan ini lenyap dari suatu obyek yang siap digarap, masih adakah yang disebut proyek atau produk? ia akan selalu berperan di zona Ketergantungan yang membuatnya jauh dari menapaki Kemandirian.

Doa Abi Dujanah

حِرْزُ أَبِي دَجَانَةِ الَكَبِيرِ

Doa atau Hiriz ini untuk penjagaan dan extra perlindungan dari seluruh kejahatan Jin, manusia dan semua mahluk yang membahayakan serta seluruh kejahatan yang ada di muka Bumi. Keistimewaan Doa ini dibandingkan Doa-Doa lainnya, penyertaan manusia-manusia suci, seperti, para Nabi, Imam, Wali, Malaikat, serta mahluk-mahluk Allah yang memiliki kemulyaan dan kebesaran yang telah dijadikan jaminan penyelamat dari segala kejahatan dan kesesatn.

Kesucian manusia pilihan dijadikan kendaraan pengaman oleh Allah dalam Doa ini, yang menambah bobot ijabahnya serta mempercepat terangkatnya dihadapan Penerima segala Doa. Ingat! tak semua Doa dikabulkan oleh Allah, meski tak semua Doa tak didengar olehNya. Semua Doa Baik sebaik niat yang menjadi syarat terkabulkannya sebuah Doa.


بِسْمِ اللهِ الرِّحْمَنِ الرِّحِيْمِ
اللّهُمَّ صَلَّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم، الحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورِ ، ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ ، هَذّا كِتًابٌ مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ الله ،صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وِآلِهِ العَرَبِيِّ الهَاشِمِيِّ المَكِّيِّ المَدَنِيِّ الأَبْطَحِيِّ الأُمِّيّ صَاحِبِ التَّاجِ وَالهَرَاوَةِ وَالقَضِيْبِ وِالنَّاقَةِ وَاللِّوَاءِ وَالْكَوْثَرِ وَالشَّفَاعَةِ ، صَاحِبِ قَولِ لاَ إِلَه إِلاَّ اللهُ إِلَى مَنْ طَرَقَ الدَّارَ إِلاَّ طَارَقَاً يَطْرُقُ بِخَيْرٍ.

أَمَّأ بَعْدُ فِإِنَّ لَنّا وَلَكُمْ فِي الحَقِّ سَعَةً ، فِإِنْ لَمْ يَكُنْ طَارِقَاً مُولَعَاً ، اِوْ دَاعِيَاً مُبْطِلاً اَوْ مُؤذِياً مُقْتَحِمَاً فَاتْرُكُوا حَمَلَةَ القُرآنِ ، وَانْطَلِقُوا إِلَى عَبَدَةِ الأَوْثَانِ ، يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظُ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسً فَلاَ تَنْتَصِرَانِ ، بِسْمِ اللهِ وَبِاللهِ وضمِنَ اللهِ وَإِلَى اللهِ ، وَلاَ غَالِبَ إِلاَّ اللهُ ، وَلاَ أَحَدَ سُوَى اللهِ وَلاَ أَ حَدَ مِثْلُ اللهِ ، وِأَسْتَفْتِحُ بِاللهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَى اللهِ .صَاحِبُ كِتَابِيَ هّذَا فِي حِرْزِ اللهِ حَيْثُ مَا كَانَ وَحَيْثُ مَا تَوَجَّهَ ، لاَ تَقْرَبُوهُ وَلاَ تُفْزِعُوهُ وَلاَ تَضُرُّوه قَاعِدَاً وَلاَ قَائِمَاً وَلاَ فِي أَكْلٍ وَلاَ فِي شُرْبٍ ، وَلاَ فِي اغْتِسَالٍ وَلاَ فِي الأَوْدِيَةِ وَالقِفَارِ وَالجِبَالِ وَلاَ بِاللَّيْلِ وَلاَ بِالنَّهَارِ وَكُلَّمَا سَمِعْتُمْ ذِكْرَ كِتَابِيَ هَذَا فَأَدْبِرُوا عَنْهُ ، بِلاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ غَالِبُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ أعَلَى مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٍ.
ثم قال رسول (ص) لعلي بن ابي طالب (ع) ، يا علي أكتب :
اللّهُمَّ احْفَظْ يَا رَبِّ مَنْ عُلَّقَ كِتَابِي هَذَا بِالإِسْمِ الَّذِي هُوَ مَكْتُوبٌ عَلَى سُرَادِقِ العَرْشِ ، أَنَّهُ لاَ إِلهَ إلاَّ اللهُ الغَالِبُ الَّذِي لاَ يَغْلِبُهُ شَيْءٌ وَلاَ يَنْجُو مِنْهُ هَارِبٌ ، وَأُعِيْذُهُ بِالحَيِّ الَّذِي لاَ يَمُوتُ، بِالعَيْنِ الَّتِي لاَ تَناَمُ ، وَبِالكُرْسيِ الَّذِي لاَ يَزُولُ، وَبِالعَرْشِ الَّذِي لاَ يُضَامُ، وَأُعِيْذُهُ بِالإِسْمِ الَمكْتُوبِ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ، وَبِالإِسْمِ الَّذِي هُوَ مَكْتُوبٌ فِي الزَّبُورِ، وَبِالإِسْمِ الَّذِي هُوَ مَكْتُوبٌ فِي الفُرْقَانِ، وَأُعِيْذُهُ بِالإِسْمِ الَّذِي حُمِلَ بِهِ عَرْشُ بَلْقِيْسَ إِلَى سُُلَيْمَانَ بْنَ دَاوُودَ(ع) قَبْلَ أنْْ يَرْتَدَّ إِلَيْهِ طَرْفُهُ، وَبِالإِسْمِ الَّذِي نَزَلَ بِهِ جِبْرِائِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَم إِلَى مُحَمَّدٍ (ص) فِي يَوْمِ الإِثْنَيْنِ، وَبِالأَسْمَاءِ الثَّمَانِيَةِ المَكْتُوبَةِ فِي قَلْبِ الشَّمْسِ ، وَبِالإِسْمِ الَّذِي تَسِيْرُ بِهِ السَّحَابُ الثِّقَالُ ، وَبِالإِسْمِ الَّذِي سَبَّحَ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالَملائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ ، وَبِالإِسْمِ الَّذِي تَجَلَّى الرَّبُّ عّزَّ وَجَلَّ لِمُوسَى بْنِ عِمْرَانَ فَتَقَطَّعَ للِجَبَلِ فَجَعَلَهُ دَكَّاً، وَخَرَّ مُوسَى صَعِقَاً ، وَبِالإِسْمِ الَّذِي كُتِبَ عَلَى وَرَقِ الزَّيْتُونِ وَأُلْقِيَ فِي النَّارِ وَلَمْ يحْتَرِقْ، وَبِالإِسْمِ الَّذِي مَشَى بِهِ الخِضْرُ (ع) عَلَى الَماءِ فَلَمْ تَبْتَلَّ قَدَمَاهُ ، وَبِالإِسْمِ الَّذِي نَطِقَ بِهِ عِيْسَى (ع) فِي المَهْدِ صَبِيَّاً وَأَبْرَأَ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ وَأَحْيَى المَوْتَى بِإِذْنِ اللهِ . وَأُعِيْذُهُ بِالإِسْمِ الَّذِي نَجَا بِهِ يُوسُفُ (ع) مِنَ الجُبِّ، وَبِالإِسْمِ الَّذِي نَجَا بِهِ يُونُسُ (ع) مِنَ الظُّلْمَةِ وَبِالإِسْمِ الَّذِي فُلَقَ بِهِ البَحْرُ لِمُوسَى (ع) وَبَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ العَظِيْمِ، وَأُعِيْذُهُ بِالتِّسْعِ آياتٍ الَّتِي نَزَلَتْ عَلَى مُوَسى (ع) بِطُورِ سَيْنَاءَ، وَأُعِيْذُ صَاحِبَ كِتَابِيَ هَذَا مِنْ كُلِّ عَيْنٍ نَاظِرةٍ وَآذَانٍ سَامِعَةٍ وَأَلْسُنٍ نَاطِقَةٍ ، وَأَقْدَامٍ مَاشِيَةٍ ، وَقُلُوبٍ وَاعِيَةٍ ، وَصُدُورٍ خَاوِيَةٍ، وَأَنْفُسٍ كَافِرَةٍ، وَعَيْنٍ لاَزِمَةٍ ظَاهِرَةٍ وَبَاطِنَةٍ ، وَأُعِيْذُهُ مِمَّنْ يَعْمَلُ السُّوءَ وَيَعْمَلُ الخَطَايَا وَيَهِمُّ بِهِمَا مِنْ ذَكَرٍ وِأُنْثَى ، وَأُعِيْذُهُ مِنْ شَرِّ كُلِّ عُقَدِهِمْ وَمَكْرِهِمْ وَسِلاَحِهِم وَبَرِيْقِ أَعْيُنِهِمْ وَحَرِّ أَجْسَادِهِمْ ، وَمِنْ شَرِّ الجِنِّ وَالشَّيَاطِينِ وَالتَّوَابِعِ وَالسَّحَرَةِ ، وَمِنْ شَرِّ مَنْ يَكُونُ فِي الجِبَالِ وَالغِيَاضِ وَالخَرَابِ وَالعُمْرَانِ، وَمِنْ شَرِّ سَاكِنِ العُيُونِ أَوْ سَاكِنِ البِحَارِ أَوْ سَاكِنِ الطُّرُقِ ، وَأُعِيْذُهُ مِنْ شَرِّ الشَّيَاطِيْنِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ غُولٍ وَغُولَةٍ، وَسَاحِرٍ وَسَاحِرَةٍ ،وَسَاكِنٍ وَسَاكِنَةٍ ، وَتَابِعٍ وَتَابِعَةٍ ،وَمِنْ شَرِّهِمْ وَشَرِّ آبَائِهِمْ وَأُمَّهَاتِهِمٍ وَمِنْ شَرِّ الطَّيْرَاتِ، وِاُعِيْذُهُ بِيَا آهْيَا شَرَاهْيَا. وَأُعِيْذُ صَاحِبَ كِتَابِيَ هَذَا مِنْ الدَّهَانِشِ وَالأَبَالِسِ وَمِنْ شَرِّ القَابِلِ وَالقَابِلَةِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ عِيْنٍ سَاحِرَةٍ وَخَاطِيَةٍ وَمِنْ شَرِّ الدَّاخِلِ وَالخَارِجِ ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ عَادٍ وَبَاغٍ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ عَفَارِيْتِ الجِنِّ وَالإِنْسِ، وَمِنْ شَرِّ الرِّيَاحِ ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ عَجَمِيٍّ وَنَائِمٍ وَيَقْظَانٍ.
وَأُعِيْذُ صَاحِبَ كِتَابِيَ هَذَا مِنْ شَرِّ سَاكِنِ الأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ سَاكِنِ البُيُوتِ وَالزَّوَايَا وَالمَزَابِلِ، وَمِنْ شَرِّ مَنْ يَصْنَعِ الخَطِيْئَةَ أَوْ يُولَعُ بِهَا، وَأُعِيْذُهُ مِنْ شَرِّ مَا تَنْظُرُ إِلَيْهِ الأَبْصَارُ وَأَضْمَرَتْ عَلَيْهِ القُلُوبُ، وَأَخَذَتْ عَلَيْهِ العُهُودُ ،وَمِنْ شَرِّ مَنْ يُولَعُ بِالفِرَاشِ وَالمُهُودُ، وَمِنْ شَرِّ مَنْ لاَ يَقْبَلُ العَزِيْمَةَ ، وَمِنْ شَرَّ مَنْ إذَا ذُكِرَ اللهُ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الرَّصَاصُ وَالحَدِيْدُ، وَأُعِيْذُ صَاحِبَ كِتَابِيَ هَذَا مِنْ شَرِّ إِبْلِيْسَ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيَاطِينِ وَمِنْ شَرِّ مَنْ يَعْمَلُ العُقَدَ، وَمِنْ شَرِّ مَنْ يَسْكُنُ الهَوَاءَ وَالجِبَالَ وَالبِحَارَ، وَمِنْ فِي الظُّلُمَاتِ وَمَنْ فِي النُّورِ ، وَمِنْ شَرِّ مَنْ يَسْكُنُ العُيُونَ، وَمِنْ شَرِّ مَنْ يَمْشِي فِي الأَسْوَاقِ وَمَنْ يَكُونُ مَعَ الدَّوَابِّ المَوَاشِي وَالوُحُوشِ، وَمِنْ شَرِّ مَنْ يَكُونُ فِي الأَرْحَامِ وَالآجَامِ ، وَمِنْ شَرِّ مَنْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ، وَيَسْتَرِقُ السَّمْعَ وَالبَصَرَ ، وَأُعِيْذُ صَاحِبَ كِتَابِيَ هَذَا مِنْ النَّظْرَةِ وَاللّخْمَةِ والخُطْوَةِ وَالكَرَّةِ وَالنَّفْخَةِ وَأَعْيُنِ الإِنْسِ وَالجِنِّ المُتَمَرِّدَةِ، وَمِنْ شَرِّ الطَّائِفِ وَالطَّارِقِ وَالفَاسِقَ وَالوَاقِفِ ، وَأُعِيْذُهُ مِنْ شَرِّ كُلِّ عُقَدٍ أَوْ سِحْرٍ وَاسْتِيحَاشٍ أَوْ هَمٍّ أَوْ حُزْنٍ أَوْ فِكْرٍ أَوْ وَسْوَاسٍ ، وَمِنْ دَاءٍ يَفْتَرِي لِبَنِي آدَمَ وَبَنَاتِ حَوَّاءَ وَمِنْ قِبَلِ البَلْغَمِ أَوْ الدَّمِ أَوْ المِرَّةِ السَّوْدَاءِ وّالمِرَّةِ الحَمْرَاءِ وَالصَّفْرَاءِ أَوْ مِنَ النُّقْصانِ وَالزِّيَادَةِ وّمِنْ كُلِّ دَاءٍ دَاخِلٍ فِي جِلْدٍ أَوْ لَحْمٍ أَوْ دَمٍ أَوْ عِرْقٍ أَوْ عَصَبٍ أَوْ نُطْفَةٍ أَوْ فِي رُوْحٍ أَوْ فِي سَمَعٍ أَوْ فِي بَصَرٍ أَوْ فِي شَعْرٍ أَوْ فِي ظُفُرٍ أَوْ فِي بَشَرٍ أَوْ فِي ظَاهِرٍ أَوْ فِي بَاطِنٍ.
وَأُعِيْذُهُ بِمَا اسْتَعَاذَ بِهِ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلامُ وَشِيْثُ وَهَابِيْلُ وَإِدْرِيْسُ وَنُوحٌ وَلُوطٌ وَإِبْرَاهِيْمُ وَإِسْمَاعِيْلُ وِإِسْحَاقُ وَيَعْقُوبُ وَالأَسْبَاطُ وَعِيْسَى وِأَيُّوبُ وَيُوُسُف وَمُوسَى وَهَارُونُ وَدَاوُودُ وَسُلَيْمَانُ وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَهُودٌ وَشُعَيْبٌ وَإِلَياسُ وَصَالِحُ وَلُقْمَانُ وَذُو الكِفْلِ وَذُو القَرْنَيْنِ وَطَالُوتُ وَعُزَيْزٌ وَعِزْرَائِيْلُ وَالخِضْرُ (ع) وَمُحَمَّد ُ(ص) وَكُلُّ مَلَكٍ مُقَرَّبٍ وَنَبِيٍّ مُرْسلٍ إِلاَّ مَا تَبَاعَدْتُم وَتَفَرَّقْتُمْ وَتَنَحَّيْتُمْ عَمَّنْ عُلَّقَ عَلَيْهِ كِتَابِيَ هَذَا .
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرِّحِيْمِ الجَلِيْلِ المُحْسِنِ الفَعَّالِ لِماَ يُرِيدُ وَأُعِيْذُهُ بِاللهِ وَبِمَا اسْتَنَارَتْ بِهِ الشَّمْسُ وَأَضَاءَ بِهِ القَمَرُ وَهُوَ مَكْتُوبٌ تَحْتَ العَرْشِ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ (ص) أَجْمَعِينَ ، فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوُ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، نَفَذَتْ حُجَّةُ اللهِ وَظَهَرَ سُلْطَانُهُ ، وَتَفَرَّقَ أَعْدَاءُ اللهِ وَبَقِي وَجْهُ اللهِ وَأَنْتَ يَا صَاحِبَ كِتَابِيَ هَذَا فِي حِرْزِ اللهِ وَكَنَفِ اللهِ تَعَالَى وَجِوَارِ اللهِ وَأَمَانِ اللهِ، اللهُ جَارُكَ وَوَلِيُّكَ وَحَاذِرُكَ مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ ، أَشْهَدُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قّدِيْرٍ، وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمَاً وَأحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدَاً وَأَحَاطَ بِالبَرِيَّةِ خُبْرَاً ، إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمَا ، خَتَمْتُ هَذَا الكِتَابَ بِخَاتَمِ اللهِ الَّذِي خَتَمَ بِهِ أَقْطَارَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَخَاتَمِ اللهِ المَنِيْعِ وَخَاتَمِ سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُودَ وَبِخَاتَمِ مُحَمَّدٍ (ص) وَبِحُرْمَةِ عَليِّ بِنِ أَبِي طَالِبٍ (ع) وَالأَئِمَّةِ المَعْصُومِيْنَ (ع) أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيْمِ لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ وَاللهُ خَيْرٌ حَافِظَاً وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ ، وَبِخَاتَمِ كُلِّ مَلَكٍ مُقَرَّبٍ وَنَبِيٍّ مُرْسَلٍ حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ العَرْشِ العَظِيْمِ ، حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ ، وَأُعِيْذُهُ بِاللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ رَبُّ العَرْشِ العَظِيْمِ، صَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِيْنَ المَعْصُومِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِميْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه الطَّيّبينَ الطَّاهِريْنَ والحَمْدُ للهِ ربِّ العَالِمينَ

Salafi Tunisia ‘Menyerang Stasiun TV Swasta’

AFP – Minggu, 9 Oktober 2011

Sekitar 300 Salafi Tunisia pada hari Minggu menyerang markas sebuah stasiun televisi swasta yang menayangkan sebuah film Prancis-Iran dan mengadakan acara debat mengenai ekstremisme agama, kata stasiun tersebut.
“Tiga ratus orang menyerang kantor kami dan mencoba membakar stasiun,” jelas Kepala cabang Nessma, Nebil Karoui kepada AFP. Mereka sebelumnya telah mengirimkan ancaman kematian pada jumat malam, sehabis penayangan “Persepolis”, sebuah film animasi pada revolusi Islam Iran.
Juru bicara kementerian dalam negeri itu, Hichem Meddeb, mengkonfirmasi insiden itu dan mengatakan bahwa sampai sekitar 100 orang telah ditangkap.
“Sekitar 200 Salafi yang kemudian bergabung dengan ratusan orang lainnya menuju ke Nessma untuk menyerang stasiun TV itu. Pasukan keamanan kemudian datang dan membubarkan mereka” katanya kepada AFP.
“Setelah kami menyiarkan ‘Persepolis’ pada hari Jumat, ada pesan yang diposting di Facebook yang menyerukan Nessma akan dibakar dan wartawan kami akan dibunuh,” kata Karoui.
“Persepolis” adalah film animasi Prancis-Iran yang diangkat dari novel bergambar dan otobiografi Marjane Satrapi yang telah diakui dunia internasional.
Film tersebut menggambarkan hari-hari terakhir rezim Syah yang didukung AS dan revolusi 1979 yang dipimpin oleh Ayatullah berikutnya Khomeiny melalui kacamata seorang gadis.
Film tersebut baru perdana disiarkan dalam dialek lokal di Tunisia.
“Kami sudah biasa diancam, tetapi yang mengejutkan adalah kali ini mereka benar-benar malakukannya,” kata Karoui.
“Nessma adalah saluran untuk orang yg progresif di Maghreb, dan kami tidak akan tergoyahkan. Kami akan terus menyiarkan program apa saja yang kami pilih. Kami tidak menendang sebuah kediktatoran untuk menggantinya dengan kediktatoran yang lain,” katanya.
Salafi adalah salah satu aliran yang paling konservatif dan radikal dalam Islam politik.
Banyak pengamat telah menyatakan kekhawatiran bahwa Kebangkitan Arab – yang dimulai di Tunisia – akan mengawali kebangkitan Islam garis keras di seluruh wilayah tersebut.

Kebebasan Terkekang Atau Kemerdekaan Terkendali

“Karena patah semangat oleh larangan menyatakan kehendak, seorang pemuda asal Iranterpaksa harus melakukan aktivitas artistiknya secara diam-diam. Sebagai seorang aktris, tak seharusnya tercekal hak ekspresinya oleh negara sekalipun.” My Teheran for sale, inilah judul sebuah film yang dibintangi aktris wanita Iran, bernama, Marzieh Vafamehr.

Cuplikan diatas, sekelumit dari konten cerita film yang menyulut kemarahan pihak pemerintah setempat, karena dianggap menyimpang dari norma etika dan bahkan beredar tampa ijin.

Film dimanaAustralia ikut membidani kelahirannya, bergenre anti kebijakan pemerintah dalam hal kebebasan menyuarakan pendapat, terkhusus bagi kalangan insan perfilman dan dunia media. Akibat keberaniannya berperan, Marzieh harus mendekam di penjara satu tahun lamanya dan menerima sangsi cambuk sebanyak 90 kali oleh pemerintah islamIran.

Kasus ini sebenarnya jika dilihat dalam konteks kebebasan, tak seharusnya pemerintah bersikapa sekeras ini. Ciri khusus negara maju justru terlihat jelas ketika semua instrument potensi masyarakat diberdayakan, tak ketinggalan di bidang media dan perfileman. Namun, yang menjadi masalah, akankah kebebasan menuntut kebebasan mutlak dalam menyuarakan pendapat dan bersikap?

Hal ini sebenarnya sampai detik ini selalu dipertegas oleh pemerintah islam Iran ditengah-tengah selogan negara-negara Adidaya mempropagandakan kebebasan menyatakan hak individu sampai ke tingkat merusak kehormatan HAM itu sendiri. Berapa banyak contoh dalam hal ini. Bila suatu negara terancam hak persatuan dan kedamaiannya oleh praktik sebagian rakyatnya yang menginginkan sesuatu yang dilatar-belakangi bakat atau skill artistik, dan karena alasan-alasan kebebasan mereka membuat keputusan yang tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah, tentu yang demikian tidak akan dibiarkan bahkan oleh pemerintah negara mana pun.

Hanya yang membedakan, secara kebetulan perlawanan datang dari segelintir masyarakat Iran yang notabene negri itu sedang dalam sorotan negatife mata dunia. Bagaimana kalau yang demikian terjadi di AS? negara yang katanya islam pun akan membelanya dan menganggapnya negara bermartabat. Kasus munculnya film bermasalah ini, menunjukkan masih kuatnya peran kaum Reformis anti kemapanan dan kebijakan. Tentu, berkat tangan Zionis juga, mereka dibesarkan dalam pengaruhnya sebagai Raja kebebasan berkedok pelindung HAM.

Saya merasa masyarakat bermartabat masih mengikuti logika yang tidak mudah terkontaminasi virus-virus atas nama hak dan kewajiban sepanjang logika berkekuatan harmonisasi hubungan antar individi. Negara Komunis pun demikian. Betapa ironinya, kalau saja kita seobyektif ketika melihat sesuatu yang menguntungkan kita, nalar obyektif itu kita pakai untuk menilai negara-negara yang memasung kebebasan dalam berjilbab, melakukan praktik ibadah dan menjalankan aktivitas sesuai keyakinannya, seperti, negara-negara Arab terkhusus Arab Saudi?

Yang dikehendaki rakyat tidak mesti sepenuhnya mewakili hak keadilan. Terpilihnya Demokrat sebagai partai pemenang pemilu, tidak berarti Demokrat mewakili seluruh aspirasi rakyat yang menginginkan keadilan. Karena, akan meniscayakan peran dan semangat partai-partai lain. Rakyat perlu diarahkan kemana mereka harus berjalan? Jangan dibiarkan kemana mereka harus mengikuti dan pergi? Jatuhnya sebuah negara, lantaran melemah bahkan ternafikannya fungsi kontrol pemerintah yang terkadang terkooptasi perilaku sebagian rakyat yang lepas kendali.

Apa arti sebuah gagasan sehebat apa pun kalau mengganggu jalannya undang-undang yang berlaku universal? atas nama seni, sejumlah angkutan Bus diberi cat warna warni diseluruh body bagian luarnya agar nampak nuansa seni dan terlihat eksotis tidak monoton satu atau dua warna, tidak tau atau tidak mau tau – yang penting niali seninya terpampang indah- kalau tindakan itu mengganggu suasana jalan dan seluruh pandangan.

Parahnya lagi kalau pelaku datang dari oknum pejabat atau tokoh panutan atau juga kalangan artis karena sensasi atau hobi.

Memerintahkan berdisiplin itu mudah, yang susah adalah mengajak orang lain patuh dan tunduk pada kedisiplinan karena banyaknya kepentingan yang tidak dapat menghargai arti kepatuhan dan keterpimpinan. Sanksi pelanggaran masih jauh lebih kecil nilainya bila dibandingkan keharusan menjauhi pelanggaran itu sendiri. Yang seharusnya dituntut adalah kemerdekaan terkendali bukan kebebasan yang mengekang. Merdeka artinya, merasa dirinya dihargai adanya undang-undang yang memandu ke jalur yang benar, bukan merasa dirinya terkekang oleh tatanan dan karenanya ia berupaya terhindar dari kepatuhan.

Sari pemahaman bersosialisasi tak jauh dari mengikatkan diri pada norma-norma sosial. Aspek ketergantungan satu sama lain ini menjadikan manusia sebagai species yang tak dapat hidup dengan kesendirian. Sejak hidup bermasyarakat, ia tumbuh dalam doktrin alam dengan saling membantu dan saling memenuhi kebutuhan.

Penggalangan Dana Yang Efektif

Maju terus penggalangan dana TV persatuan agar eksistensi dan pengaruh AB di nusantara dapat terjaga dengan baik. Soal dana sebenarnya tidak susah kalau benar-benar diatur penanganannya baik teknis pengumpulan atau penggunaannya, baik untuk operasional penggerak awal atau keperluan pembiayaan-pembiayaan primer terkait perijinan dll.. Mengambil contoh MTA yang ada di Solo, dimana soal dana tidak terlalu muluk-muluk dalam penggalangan, cukup dengan hanya 200 Rp per 1 juta anggotanya, sudah berapa?

Saya tidak tau jumlah komunitas AB diseluruh Indonesia ada berapa? disini saya berpikir, betapa pentingnya data base sebagai langkah melakukan aneka kegiatan sosial terutama yang berhubungan dengan dana. Bayangkan, kalau saja jamaah AB sudah berjumlah 1juta jiwa, akan terkumpul berapa bila masing-masing person rela dengan memberikan seribu Rp per hari? (one day one thousand), niscaya akan terkumpul 1 M.
Kalau 2rb,3rb,5rb,10rb dan seterusnya..?

Cara ini pula yang dipakai Ust.Yusuf Mansur, (one day one ayat) untuk rumah Tahfidznya yang membuatnya maju dan berkembang, bahkan sampai sekarang sudah terdapat 30 lebih cabang rmh Tahfidz yang tersebar diseluruh nusantara. Sosok Ustd yang dikenal dengan Ikon, “The miracle of gifing”, telah berupaya memanfaatkan basis massanya untuk sebuah penggalangan yang menghasilkan sejumlah proyek islami yang antara lain, rmh Tahfidz yg teanlah dikenal dimana-mana.

Saya yakin dengan kelola cerdas, AB akan mampu membangun masyarakat terutama pelayanan masyarakat di bidang media. Apalagi prinsip kuat yang dimilikinya dan dikenal dengan WF, justru akan membuat potensi jamaah AB berbeda karena kualitas dengan selainnya.

Ingat! hanya dengan kerja keras AB pasti punya bendera sendiri..para dewan pengurus harus yakin kalau keberhasilan ada pada upaya perjuangan mereka yang tak kenal bosan. Terimaksih, hanya sharring.. semoga bermanfaat.. Amin Saya ikut berdoa dan berusaha..

Tradisi Nyekar, AS Verses Wahabi

Peristiwa 11 September masih tetap menjadi sebuah kenangan sekaligus kejadian yang tak terlupakan. Kejadian tragis ini yang menelan banyak korban membuat AS semakin bermata gelap memandang islam dan tak henti-hentinya mengklaim sebagai agama teroris dan dan pro-kekerasan.

Islam yang disalahpahami sejak dahulu kala hingga kini, dengan terjadinya penyerangan ke sebuah gedung kembar di AS, membuat AS dengan mengandeng negara-negara uni Eropa serta negara-negara Arab untuk memastikan kepada dunia bahwa trendmark kedamaian dan keamanan ada di tangan mereka. Hal ini diperkuat dengan adanya kejadian-kejadian serupa yang terbanyak menimpa negara-negara berpenduduk muslim, seperti, Indonesia, Mesir, Siriya dan Iran, hingga mengakibatkan kerugian besar baik materil maupun jiwa dimana sebenarnya dalang dibalik itu adalah AS sendiri dan sekutu. Dunia semua tau meski lemah untuk mengatasi.

Yang menarik dari setiap mereview adegan 11 September yang hari ini juga ramai diperingati terkhusus pemerintah dan masyarakat AS, kesan kuat aksi kesedihan dalam prosesi berziarah baik ke makam korban atau ke lokasi kejadian atau ke tempat lain yang mengindikasikan tempat kejadian, bahkan sudah menjadi hal yang biasa, menaburkan aneka bunga segar dan atau meletakkan karangan bunga sebagai rasa empati yang begitu dalam.

Sebegitu jauh perhatian mereka atas orang-orang yang telah pergi dari mereka untuk selamanya, pada saat yang sama, dunia kematian tak pernah dimengerti sebagai tempat akhir yang harus dipersiapkan di dunia sebelum dikunjungi. Benar, matrialisme membuat mereka susah mengerti misteri kesudahan dari alam materi ini. Berbeda sratus derajat dari mereka, orang-orang yang telah mengklaim dirinya bagian dari kelompok islam, Wahabi, dengan berani menjati-dirikan sebagai garda anti hal-hal yang berbau kematian. Nyekar, Haram keras !

Sulit memahami -meski tidak perlu dimengerti- argumen yang dipakai mereka untuk membangun agama yang mereka pahami ini. Disatu sisi, upaya mereka yang licik membungkus islam dengan ajaran yang menohok, lewat produk-produk yang selalu dijajakan di gerai-gerai pengajian mereka, seperti, tema-tema pengharaman, bid’ah, tauhid puritan, kembali ke kemurnian ajaran, ajaran salaf dll..dimana sebenarnya justru menampilkan kedangkalan keberagamaan mereka yang pada giliranya harus ditopang dengan cost promo yang sangat mahal.

Bandar Bin Abdul Aziz, yang populer disebut, Amr Bin al-Ash abad ini, adalah orang penting dalam daftar pendistribusian paham ini ke berbagai negara di dunia dengan backing dana yang sangat kuat. Orang-orang dalam pemerintahan Raja Abdullah bahkan Abdullah sendiri, tak segan-segan menganggarkan sejumlah besar dana sebagai upaya kampanye.

Di sisi lain, barat terutama AS meski terlalu jelas melancarkan serangan terhadap islam, dalam konteks ini masih bisa dimaklumi betapa perhatian dan ekspresi kesedihan yang benar-benar dinyatakan dalam beragam bentuk riil yang jauh bisa dimengerti ketimbang sekte Wahabi. Bush dan Obama pun ikut melangsungkan acara ritual Nyekar..

Saya yakin, kalau di AS ada makam mbah Gendot yang berjasa buat mereka, warga AS tak malu-malu untuk memburu barokah darinya, barokah dalam versi agama materialis tentunya. Sebaliknya, pekuburan sahabat di Saudi Arabia, sama sekali tidak berarti bagi kaum Salafi/Wahabi. Bahkan, makam Nabi tak ubahnya sebuah penampan makanan basi yang dikelilingi orang-orang yang dianggapnya berbuat sia-sia bahkan bid’ah. Ortodoksi pemahaman syar’i sekian langkah lebih ngetren bagi mereka dari pada yang lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.