Sekian hari berlalu dengan menjalankan ibadah puasa. Semua sadar bahwa bulan ini adalah bulan puasa, tapi, tak semua tau kalau harus dijalankan denganpenuh ketulusan dan harap. Bulan ini berbeda dari bulan-bulan yang lain, mengingat kesucian bulan ini membawa Ramadhan sebagai satu-satunya bulan yang diberi penghargaan oleh Allah dengan, “lailatul Qadar”.
Puasa yang dijalankan karena semata-mata mengharap ridho Allah, akan membuahkan hasil yang gemilang. Memang, tak semua orang mampu menjalankannya sesuai yang diharapkan, tapi, setidaknya bentuk ibadah ini dengan format estetikanya dapat dengan baik dirawat lewat perlindungan maksimal atas apa yang menjadi kewajibannya. Barokah, ampunan dan kemudahan dalam segala urusan baik, akan datang secara beruntun disadari atau tidak. Disinilah media curhat dan biro perjalanan seorang hamba menuju area bongkar muatan kalbu yang langsung didengar dan direspon oleh Penerima segala yang baik.
Ada sejumlah persepsi yang berlaku di masyarakat, anggapan bahwa, sepanjang seseorang disebut berpuasa, sejumlah aktivitas yang seharusnya dihentikan, justru tetap dijalankan bahkan memperoleh pengembangannya dalam berpuasa. Meskipun tidak membatalkan secara syar’i, selayaknya kesucian puasa tidak ditaburi debu-debu yang menyelimuti kesempurnaannya.
Biar tidak terasa lama menunggu waktu mahrib, ngrumpi aja dengan teman-teman. Rasa dahaga yang mencekam disiasati dengan ngabuburit di pantai slamaran, disana lumayan dapat kompensasi pemandangan alam dan pemandangan orang. Ada juga yang putar-putar sepanjang hari di pasar mencari buah-buahan dan makanan pembuka atau cemilan sehabis tarowih.
Untuk urusan perut biasanya seseorang bisa dianggap berpuasa atau tidak. Karena, memang dengan pengertian yang paling luar dari devinisi berpuasa yang sebenarnya, menjaga diri dari segala makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi diluar bulan puasa sepanjang hari.
Selaku muslim, semua yang diwajibkan menjalani ibadah puasa selayaknya memperhatikan tingkat sah dan kesempurnaan puasa. Tidakkah merasa malu kepada Allah, jika setiap musim puasa tiba, ia selalu berada di kelas satu dan tidak pernah naik (ngendok). Tentu, materi yang dipelajarinya tetap saja monoton tidak mengalami perubahan. Para guru pun merasa bosan. Tentu, hal ini tidak berlaku bagi yang Maha Kasih.
Kesadaran itulah yang menggiring manusia kepada kematangan menjalani ibadah. Orang yang pikiran dan hatinya selalu terpaku dalam bayang-bayang perencanaan makan jelang berbuka, tentu puasa yang demikian akan turun nilainya dari level pengabdian ke level puasa kuliner.
Boleh jadi orang yang sehari-harinya berada di jalan atau di tempat kerja yang memangkas banyak waktu ibadah, bisa tergolong benar-benar berpuasa selama kesucian puasanya terjaga dari sesuatu yang dapat merusak nilai ibadahnya. Kometmen menjaga kesucian dari semua yang terlintas atau tersentuh rasa dan atau semua yang dianggap menurunkan kadar diterimanya ibadah puasa secara sempurna, adalah kunci kesuksesan dalam meniti ketaatan sepanjang satu bulan.
Puasa bisa melahirkan kedamaian tapi bisa juga mengakibatkan kegagalan dalam melanjutkan perjalanan seseorang kepada Allah. Satu bulan puasa, berarti masa percobaan melatih diri menghadap kepadaNya bagi orang-orang yang hendak pergi dalam perjalanan spiritualnya. Kesuksesan dapat terlihat dalam satu bulan ini. Bahkan, akan meningkatkan amal kebajikan di bulan-bulan selainnya.
Jika sang musafir tidak tau dimana dia harus berhenti dan tak memperhatikan rambu-rambu disepanjang jalan yang berbelok, maka akan banyak rintangan yang menghadang bahkan tempat tujuan yang dicarinya pun tak kan didapat. Ini yang dimaksud oleh Nabi, “hanya lapar dan capek yang diperoleh”. Prototip puasa kuliner banyak menjangkiti masyarakat muslim yang modal pengetahuan tentang aturan main dalam menjalankan ibadah puasa terbilang minim sekali.
Betapa Nabi sungguh telah memperlihatkan kepada umatnya, bagaimana persiapan menjelang datangnya bulan suci ini yang telah dinanti-nanti di bulan Rajab dan Sya’ban. Putri tercintanya, Fatimah tau betul apa yang seharusnya diperbuat menjelang dan disepanjang bulan ini. Bahkan, sampai tali-tali dipersiapkan untuk mengikat perut kedua anaknya, Hasan dan Husain agar mata mereka tidak tersapu kantuk sepanjang malam hanya karena keinginan yang kuat untuk dihitung sebagai pelaku puasa yang shaleh bukan pelaku puasa kuliner.
Filed under: oace religi