Peristiwa 11 September masih tetap menjadi sebuah kenangan sekaligus kejadian yang tak terlupakan. Kejadian tragis ini yang menelan banyak korban membuat AS semakin bermata gelap memandang islam dan tak henti-hentinya mengklaim sebagai agama teroris dan dan pro-kekerasan.
Islam yang disalahpahami sejak dahulu kala hingga kini, dengan terjadinya penyerangan ke sebuah gedung kembar di AS, membuat AS dengan mengandeng negara-negara uni Eropa serta negara-negara Arab untuk memastikan kepada dunia bahwa trendmark kedamaian dan keamanan ada di tangan mereka. Hal ini diperkuat dengan adanya kejadian-kejadian serupa yang terbanyak menimpa negara-negara berpenduduk muslim, seperti, Indonesia, Mesir, Siriya dan Iran, hingga mengakibatkan kerugian besar baik materil maupun jiwa dimana sebenarnya dalang dibalik itu adalah AS sendiri dan sekutu. Dunia semua tau meski lemah untuk mengatasi.
Yang menarik dari setiap mereview adegan 11 September yang hari ini juga ramai diperingati terkhusus pemerintah dan masyarakat AS, kesan kuat aksi kesedihan dalam prosesi berziarah baik ke makam korban atau ke lokasi kejadian atau ke tempat lain yang mengindikasikan tempat kejadian, bahkan sudah menjadi hal yang biasa, menaburkan aneka bunga segar dan atau meletakkan karangan bunga sebagai rasa empati yang begitu dalam.
Sebegitu jauh perhatian mereka atas orang-orang yang telah pergi dari mereka untuk selamanya, pada saat yang sama, dunia kematian tak pernah dimengerti sebagai tempat akhir yang harus dipersiapkan di dunia sebelum dikunjungi. Benar, matrialisme membuat mereka susah mengerti misteri kesudahan dari alam materi ini. Berbeda sratus derajat dari mereka, orang-orang yang telah mengklaim dirinya bagian dari kelompok islam, Wahabi, dengan berani menjati-dirikan sebagai garda anti hal-hal yang berbau kematian. Nyekar, Haram keras !
Sulit memahami -meski tidak perlu dimengerti- argumen yang dipakai mereka untuk membangun agama yang mereka pahami ini. Disatu sisi, upaya mereka yang licik membungkus islam dengan ajaran yang menohok, lewat produk-produk yang selalu dijajakan di gerai-gerai pengajian mereka, seperti, tema-tema pengharaman, bid’ah, tauhid puritan, kembali ke kemurnian ajaran, ajaran salaf dll..dimana sebenarnya justru menampilkan kedangkalan keberagamaan mereka yang pada giliranya harus ditopang dengan cost promo yang sangat mahal.
Bandar Bin Abdul Aziz, yang populer disebut, Amr Bin al-Ash abad ini, adalah orang penting dalam daftar pendistribusian paham ini ke berbagai negara di dunia dengan backing dana yang sangat kuat. Orang-orang dalam pemerintahan Raja Abdullah bahkan Abdullah sendiri, tak segan-segan menganggarkan sejumlah besar dana sebagai upaya kampanye.
Di sisi lain, barat terutama AS meski terlalu jelas melancarkan serangan terhadap islam, dalam konteks ini masih bisa dimaklumi betapa perhatian dan ekspresi kesedihan yang benar-benar dinyatakan dalam beragam bentuk riil yang jauh bisa dimengerti ketimbang sekte Wahabi. Bush dan Obama pun ikut melangsungkan acara ritual Nyekar..
Saya yakin, kalau di AS ada makam mbah Gendot yang berjasa buat mereka, warga AS tak malu-malu untuk memburu barokah darinya, barokah dalam versi agama materialis tentunya. Sebaliknya, pekuburan sahabat di Saudi Arabia, sama sekali tidak berarti bagi kaum Salafi/Wahabi. Bahkan, makam Nabi tak ubahnya sebuah penampan makanan basi yang dikelilingi orang-orang yang dianggapnya berbuat sia-sia bahkan bid’ah. Ortodoksi pemahaman syar’i sekian langkah lebih ngetren bagi mereka dari pada yang lainnya.
Filed under: wisata cakrawala