Kabinet Macan Tutul

Banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan bentuk pemerintahan RI yang terus berlarut-larut dalam keterpurukan ekonomi. Semakin parah sistem ekonomi, semakin bermunculan istilah-istilah penanda dan mencirikan pola pemerintahan yang tidak terencana, bahkan terkesan berpura-pura membangun negara. Dari pembuatan undang-undang, sosialisasi sampai praktek di lapangan, tidak pernah tertata dengan baik.

Uji materi undang-undang selalu berat sebelah, draf yang punya peluang kompromi yang bisa menang.  Kasus import sembako, garam, gula, buah-buahan dll.. bukti pemerintah tidak peduli rakyat yang memiliki berhektar-hektar tanah siap garap. Ini pertanda materi uji berkaitan komoditas vital hanya orang-orang kaya dan yang dekat di kursi pejabat yang diuntungkan. Pola transaksi yang kerap dilakukan seperti umpan ikan, yang penting disepakati soal marjin profitnya meskipun teramat kecil asal rutin ga jadi masalah dan yang tau kita (baca: pejabat) rakyat yang penting ngikut aja.

Pelanggaran melenakan dalam konteks  peningkatan pembangunan nasional yang lantang pesan sponsornya di gedung DPR atau di arena kampanye pemilu/pemilukada. Fripott contoh paling nyata rendahnya tingkat moral pejabat kita yang tidak mampu membuat keputusan yang menguntungkan. Kekayaan alam adalah aset tetap kebanggaan bangsa sekaligus deposito negara dengan prioritas hasil produk yang menguntungkan secara merata bagi segenap rakyat. Ketakutan mengubah format yang telah disepakati bersama, sebesar ketakutan pemerintah akan ancaman teroris. Padahal nyata-nyata sangat merugikan.

Dengan pertimbangan seperti ini, pola yang dipakai bagaimana limpahan sumber alam yang terpendam bisa tergali bukan bagaimana pemanfaatannya bisa maksimal. Sederhana saja, mengukur tingkat kepekaan moral sudah terbaca dari bagaimana penilaian hasil karyanya. Pola seperti ini pula, nyaris memberikan ruang nyaman bagi pejabat kita untuk berbagi keuntungan dan semua yang menjadi perangsang terjadinya kesepakatan, tentu modus Iming-iming atau menjanjikan sesuatu yang mewah adalah alat yang masih laku dijual belikan. Indonesia sampai detik ini di peringkat utama dalam ketekunan merawat modus ini dengan baik, sehingga pantas diwariskan anak-anak bangsa sebagai generasi penerus mereka.

Konsep ini secara kebetulan diadopsi dari masyarakat prrimitif yang tidak mengenal budaya dan tidak pernah belajar di sekolah. Hanya semata-mata kebutuhan perut yang mereka kejar sambil membunuh satu sama lain. Ironi sekali, kalau saja penegak demokrasi dan penyelenggara negara berperadaban masih terus meng-cloning budaya masyarakat purba animistis ini. Ketakutan Kancil terhadap ancaman serangan Macan tutul atau Cetta secara tiba-tiba dapat dibenarkan, ketika diri mereka tengah berada dalam bahaya.  Namun, kawanan Kancil tak mungkin mengelak saat semakin sadar bahwa ancaman gerombolan Macan dipengaruhi sifat rakus dan narsisme pamer keberanian (baca: kekayaan), dan karena itu si Kancil harus segera mencari tempat perlindungan meskipun pada akhirnya tempat persembunyiannya pun tercium juga.

Dengan kebijakan lain yang tersa indah, subsidi BBM, TDL (tarif dasar listrik), kemungkinan harga gas melonjak, bahan-bahan sembako tidak dapat ditekan kestabilannya, semua itu dan masih banyak kawannya, tidak dapat mengubah kemiskinan, gelandangan, dan kaum marjinal untuk hidup lebih baik. Perubahan terjadi hanya sebatas angka saja. Dari data-data berdasarkan survei yang dilakukan lembaga-lembaga terpercaya, seperti LSI dan Lingkar survei Indonesia, membenarkan tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja Kabinet Macan tutul ini semakin berkurang. Mereka tau hasil survei ini atau tidak, yang jelas, tingkat absensi kepedulian dan partisipasi masyarakat telah hilang dalam setiap kasus yang masuk ruang pengadilan yang bersinggungan dengan pejabat di semua tingkat dan di seluruh departemen. Logo yang mungkin pantas diangkat, ‘negara dalam kabut pembangunan yang semakin tebal ‘.

Alih-alih menyalakn lampu kuning reformasi, negara dari hari kehari semakin dibiarkan berjalan dalam kepentingan negara lain. Secara geografis, Indonesia bagian dari negara yang ada di dunia dengan tanda peta dunia yang teramat jelas, tapi, secara politis tidak ada. Kemampuan membangun dan mengembangkan adalah bagian inti sebuah proyek dan produk yang penting, dimana lemah kuatnya konstruksi proyek atau ada tidaknya sebuah proyek bergantung sangat kokoh atas kemampuan membangun dan mengembangkan. Andai dua kemampuan ini lenyap dari suatu obyek yang siap digarap, masih adakah yang disebut proyek atau produk? ia akan selalu berperan di zona Ketergantungan yang membuatnya jauh dari menapaki Kemandirian.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.