Rajab: big sale pahala..ku yang terperosok

Ya Allah, RajabMu kini telah tiba. Bila menengok ke belakang, rasa-rasanya bulan mulia ini tak sanggup merobah nasibku. Hatiku yang sellu bimbang, ulahku yang tak pernah mau dewasa dan perilakuku yang terus menerus konyol, telah menjadi bagian ornamen hidupku yang sulit dipisahkan.

Bukan lantaran aku menghendakinya atau mersa menikmati nya (ketagihan), tapi karena aku belum sanggup membutMu tersenyum aku belum sanggup mencolekMu dan lebih-lebih aku juga tak punya nyali untuk menyatakan cinta kepadaMu..

Duhai Penguasa hatiku, aku tak habis pikir..waktu berjalan tak terasa umur berkurang senantiasa RajabMu yang kemaren penuh tambl sulam dan kini yang ada masih sisa-sisa keraguan melangkah kepadaMu yang berserakan di lorong kalbuku.

Meski aku tau anugerahMu dibulan ini begitu banyak, tapi semakin aku ingin mencoba mendekat kepadaMu semakin aku merasa tertahan perasaan bersalah denganMu karena selalu melewatkan hari-hariku tampa ditemani diriMu.

Ooh..Nada dering kalbuku..ku tak mau berlama lama dalam kisah panjangku yang konyol ini. Ku tak sanggup lagi harus merasa jauh denganMu. Aku harus merubah keadaan ini..Tapi, bagaimana caranya? tuntunlah aku wahai Penjaga kesadaranku..

Tak lama ku meratapi nasibku, tiba-tiba terdengar suara lirih yang lamat-lamat menyelinap cepat di pendegaranku seakan membisikkan, “hai peratap nasib,sampai kapan harapanmu termakan lamunanmu? bangun dan bangkitlah! Tuhan sellu ada bahkan di puncak keputus-asaanmu..Dia tidak terlihat matamu tapi hadir disetiap keluh kesahmu mendengar ritme persangkaanmu dan merasakan denyut kesedihanmu serta benar-benar mengerti persoalanmu yang terkadang manusia sok pintar mengatasinya sendiri..

Suara itu terlalu asing bagiku tapi begitu kuat menggetarkn seluruh tubuhku hingga seakan-akan aku merasa mendapat anugerah Rajab sampai di penghujung bulannya. Sejak itu, aku baru sadar bahwa untuk bisa merasakn manisnya bulanMu, tak harus aku merasa tersandung kesalahnku yang telah lewat tapi haruslah bagiku tetap yakin dan terus yakin sepanjang ruh masih melekat di badan, apa pun yang kujalani dari suatu perbuatan pasti menyisahkan walau secuil perubahan. Karena itu celaka sekali kalau yang tersisa dari perubahan itu adalah keburukan..

Nice Rajab..semoga menginspirasi..

| Tinggalkan komentar

Antara Radikalisme Dan Narkoba

Nusakambangan menyeramkan…
Eksekutor mewakili undang2 atau mewakili rakyat?

Aku pikir jahat mana pecandu Narkoba atau pecandu Radikalisme?
Radikal musuh siapa?
Narkoba musuh siapa?

Radikal menumbangkan negara
Narkoba mengganggu negara

Radikal ujung ujungnya penjara
Narkoba finalnya Eksekusi

Radikal memproduksi orang seakan pejuang
Narkoba merusak pejuang seakan merdeka

Radikal aku muslim kamu kafir
Narkoba aku nyantai kamu korban

Radikal beratribut sunnah Nabi tp ingat hny atribut semata
Narkoba ngak pake atribut apa2 perlahan dan diam2 tp pasti

Radikal ambisinya Daulah khilafah
Narkoba ambisinya Daulah farhanah (stres mampet)

Radikal diseragamkan pose awut2an
Narkoba beda orang beda nomor punggungnya

Barangkali krn Indonesia dikenal tanah yg maha subur, semuanya jadi
bisa subur disini..Alhamdulillah..

| Tinggalkan komentar

Mengenal Kourosh Ziabari, Jurnalis yang Melawan Media Barat

Posted on 18/04/2015 by SuaraJakarta

Kourosh Ziabari Kourosh Ziabari

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Tidak banyak jurnalis internasional yang memfokuskan dirinya pada perlawanan media massa mainstream barat. Dari jumlah yang sedikit tersebut, Kourosh Ziabari boleh jadi adalah jurnalis yang paling banyak kontribusinya pada isu ini.

Perlawanannya adalah seputar isu Islamophobia dan Iran, yang digambarkan secara salah oleh sejumlah media mainstream barat. Kourosh memang berasal dari Iran, tepatnya Kota Rasht. Dia memulai debutnya sebagai jurnalis ketika berusia 12 tahun di majalah mingguan Hatef.

| Tinggalkan komentar

Kartini Dan Ajaran Emansipasi

Beberapa hari yg lalu Indonesia telah memperingati salah satu pionirnya sebagai pahlawan wanita, yaitu ibu Kartini. Saya tidak mudeng lalu mengapa sosoknya selalu dikaitkan dengan tema emansipasi. Padahal persoalan itu bagian kecil dari mega proyek perjuangannya yang lebih mengarah kepada pembinaan mental yang justeru akan melahirkan kartini” muda yang tangguh, berwawasan, dinamis dan berwibawa.

Seorang Kartini hanya butuh wanita yg punya sensitivitas terhadap lingkungannya. Wanita yang punya idealis memperjuangkan haknya bukan menanti penyamaan hak terhadap lelaki. Kesamaan gender yang tengah marak diguncingkan, tidak jauh dari hasil produk olahan barat yang segalanya hrs diukur dari Materi. Baginya tak ada antara sopir wanita dan kasir lelaki antara penggali tambang dari kalangan wanita dan pengrajin emas dari kelompok lelaki. Persamaan seperti ini yang diinginkan? Penyetaraan status sepeti ini yang diperjuangkan? Faktanya lucu sekali bukan? Inikah yang diangkat oleh sosok Kartini sebagai seorang pahlawan?

Ironis sekali kalau yang demikian itu yang terjadi. Atau dalam pandangan yang lebih elegan penyetaraan dimaksudkan kesamaan hak dan tanggungjawab. Ada benarnya tuntutan sepeti ini bila dimaksudkan adalah memberinya hak dan tanggungjawab sesuai kodrat, potensi dan kemampuanya bukan karena alasan hak yang ada pada lelaki yang sering dipandang lebih baik lebih makmur dan lebih enak lah…ketika suami dijadikan pemimpin kluarga, artinya keharmonisan kluarga lebibh ditentukan kebijakan suami dari pada istri. Karena tidak saja kasih sayang yang dibutuhkan, lebih dari itu sepeti pengayoman, perlindungan, peneguhan dll..bukan berarti memberi hak lebih kepada suami tetapi selaku pemimpin keluarga dan dari aspek inilah poros seluruh persoalan rumah tangga dikembalikan kepadanya sebagai lokomotif yang tentu harus diputuskan secara bijak.Istri berhak angkat bicara atau bahkan menggugat bila dirasa keputusan suami melanggar hak atau privasinya sebagai isteri atau ibu dari anak-anaknya. Apaan sih semua itu..saya aja mampu memberikan semua itu, contoh dari sikap isteri yang merasa mampu mengendalikan kebijakan rumah tangga atau ingin memimpinnya dengan tidak mengabaikan hak suami. Semuanya harus jelas dan dibatasi oleh kesadaran bahwa masing-masing berada di koridor yang telah ditentukan oleh agama dan etika.

Tentu, kalau isteri sudah merasa mampu mengatasi problem keluarganya bersama suaminya, hal demikian ini tidak berarti terlarang, meskipun dirinya sangat yakin mampu menyelamatkan dan mengatasinya, tetpai, dibalik semua kemampuan intelektual dan semangatnya, ia akan tetap dibatasi kekurangan dan kelemahan yang bersumber dari dalam dirinya sebagai suatu kodratnya selaku wanita. Ibu Kartini tidak pernah berpikir bagaimana memimpin keluarganya. Dan bagaimana ia harus mengatur uang belanja suaminya. Perkembangan zaman banyak mempengaruhi perubahan status seseorang, tapi tidak pada potensi dan kemampuan kodrati yang telah ditentukan oleh sang Pencipta dengan porsi yang tentu dibedakan antara lelaki dan perempuan sebagaimana sudah disepakati. Yang terpenting bukan siapa mengtur siapa tetapi siapa yang secara kodrati mampu memberikan jaminan perlindungan dan keamanan lebih bagi keluarga dalam jangka waktu yang relatif panjang. Watak perempuan ingin dirinya terlindungi oleh lelaki, dan ini fitroh. Jaminan perlindungan dan keamanan adalah paling prinsip dalam keluarga. Semua bergantung olehnya dan tampa itu pastikan rumah tangga akan hancur dan berantakan. Prinsip dari emansipasi yang diserukan Kartini adalah semangatnya bukan persoalan klaim dan adu kemampuan dalam rumah tangga yang jelas bukan medan laga tapi tempat teduh merajut cinta dan menciptakan lingkungan mawaddah, sakinah wa rohmah sesuai yang dianjurkan.

kalau tidak demikian, maka yang akan timbul pertanyaan seperti ini, Sudahkah tepat seorang suami menjalankan haknya sebagai kepala keluarga? mengapa harus suami yang mengatur urusan keluarga? isteri yang bekerja tentu isteri juga yang mengaturnya. Enak aja..kerja aja ngak laki-laki maunya tetap ngatur..Nah, adanya saling menyalahkan sepeti ini yang akan terjadi bila semuanya tidak dipulangkan kepada kodrat dan potensi alamiah mereka masing-masing yang harus diterima dengan senang hati bukan pasang badan. Ibu Kartini memaknai emansipasi lebih kepada kesamaan hak dalam memperjuangkn nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi sarana kemuliaannya.

| Tinggalkan komentar

Wanita ini Melahirkan Sejarah

Sebelumnya, ia tak dikenal banyak orang. Meski seorang wanita shalihah dan berjiwa Ilahiyah, ia jarang ditemukan berkumpul diantara wanita lain yang sering berbagi cerita bersama sahabat-sahabat besar. Dibesarkan dalam keluarga taat agama tapi rasa aprisiatifnya yang tinggi atas keyakinan orang lain membuat dirinya lebih terhormat dari predikat keshalihannya.
cita-citanya tidak muluk-muluk. Tidak pernah juga memimpikan menjadi wanita yang serba harus berstatus. Tak butuh dimengerti orang. Cukup baginya dengan kebiasaan menyisahkan sebagian waktunya untuk brmunajat dan menyampaikan sedikit cerita tentang keadaan hatinya dengan Robnya. Tak ada yang tau kalau ia kelak akan menjadi orang besar. tak ada yang menyangka kalau ia suatu saat akan disunting seorang lelaki yang mendapat gelar Abu Turab.

Keberaniannya mencerminkan kalau dirinya lahir dari keluarga pemberani dan bukan dicipta dari cerita buku atau pelajaran sekolah yang cukup inspiratif. Bani Kilab nama marganya. Para gengster dan bandit-bandit jahiliyah harus berpose waria kalau kebetulan harus berpapasan masalah dengan suku kabilah Kilab.

Tak semua anggota dari suku ini menyandang banyak sifat mulia. Namun, berbeda dengan sosok yang namanya tak mau disebut-sebut oleh suaminya didepan anak-anak tirinya lantaran tak mau melihat mereka menangis karena mendengar nama ibunya yang sama dengan nama ibu tirinya. Untuk sebuah nama ia begitu berbesar hati dan mau mengorbankan dirinya demi orang lain walaupun anak tirinya. Bagaimana dengan anaknya sendiri yang kelak bakal dikorbankan demi sesuatu yang lebih agung dari sekadar nama bahkan dari segalanya..Padanya menyatu seluruh sifat mulia yang jarang ditemukan pada wanita lain sezamannya.

Bunda Fatimah as tak salah memilihnya sebagai ibu dari anak-anaknya AlHasan dan AlHusain, yang telah diwasiatkan kepada suaminya untuk dinikahinya kelak kalau dirinya telah pergi untuk selamanya. Karbala adalah saksi satu-satunya paling dramatis yang memadukan keinginan Fatimah as dan kelayakan Fatimah menjadi ibu dari anak-anaknya, yang tak mau dipanggil Fatimah karena khawatir melukai perasaan anak-anak tirinya, dan karena itu ia dipanggil Ummul Banin as sebagai wanita yang akan melahirkan seorang pemuda yang siap mengawal jalannya misi Tuhan yang suci.

Seorang pemuda yang lahir dari rahimnya dan sangat dicintai abangnya AlHusain, meski harus kehilangan kedua tangannya ia masih setia memikul panji Karbala yang diamanatkan abanngnya sampai menghembuskan nafasnya secara mengenaskan. Suku Kilab yang sangat populer dengan keberanian warganya, menjadi semakin harum namanya setelah sukses memberikan salah satu anggotanya yaitu, Abul Fazel Abbas, kepada seorang Imam yang juga saudara tirinya demi tegaknya keadilan yang merenggut nyawanya dalam kesyahidan. Wanita itu kini telah pergi bersama kafilah Karbala. Tujuh Rajab kemaren adalah hari kelahirannya. Mintalah pertolongan kepada Allah wahai kaum wanita untuk bisa mencontoh perilakunya dengan cara setidaknya kirimkan doa untuk ruhnya yang suci agar ia semakin dekat dihati kita..Amin

| Tinggalkan komentar

Kisah Kepahlawan Uskup Pertama di Jawa akan Difilmkan



Uskup Mgr Albertus Soegijapranata

Kepahlawanan Uskup Jawa Difilmkan
Sabtu, 5 November 2011 | 09:45 WIB

SEMARANG | SURYA Online – Sebuah film sejarah dan kepahlawan berjudul “Soegija” mulai diproduksi dengan mangambil lokasi di Gereja Gedangan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (4/11/2011). Film ini mengangkat ketokohan Uskup Mgr Soegijapranata pada era perjuangan kemerdekaan Indonesia tahun 1940-1949. Soegijapranata sendiri merupakan tokoh Katolik pribumi Jawa yang pertama kali menjadi uskup serta dikenal sebagai seorang pahlawan nasional.

Film yang telah direncanakan sekitar tiga tahun lalu oleh Studio Audio Visual Puskat akhirnya diproduksi dengan menggandeng sutradara Garin Nugroho.Film ini menggandeng sejumlah artis dan seniman seperti Nirwan Dewanto, Butet Kertaradjasa dan Olga Lydia. “Soegija” dengan biaya produksi sekitar 12 miliar ini merupakan film termahal yang pernah dibuat Garin Nugroho. “Ini juga merupakan sebuah film tersulit yang pernah saya buat karena harus menyediakan set pada era 40-50,” kata Garin.

Garin juga mengungkapkan bahwa film ini menjadi sangat penting karena memberikan pesan yang mendalam tentang sebuah kepemimpinan. Film dengan penata musik Djaduk Ferianto nantinya tidak berbicara mengenai agama Katolik melainkan lebih banyak tentang pesan universal dan kemanusiaan. Dari film inilah menurut Garin Nugroho bangsa Indonesia akan belajar tentang kemanusiaaan dan multikulturalisme.
http://www.surya.co.id/2011/11/05/ke…jawa-difilmkan


Tim pendukung film berjudul “Soegija” saat memberikan keterangan pers di Gereja Katolik Gedangan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (4/11). Film yang diproduseri Studio Audio Visual Puskat dengan sutradara Garin Nugroho ini mengangkat kisah kepahlawanan Mgr Soegijapranata SJ pada masa tahun 1940-1949.

‘Soegija’, Film Termahal Garin Nugroho
Jumat, 04/11/2011 17:00 WIB

Jakarta – Garin Nugroho dipercaya membuat film yang mengisahkan kiprah uskup pribumi pertama di Indonesia, Mgr Soegijapranata. Film berjudul ‘Soegija’ itu merupakan film termahal Garin dengan biaya sekitar Rp 12 miliar. “Biayanya dua kali lipat Opera Jawa. Ya, ini film termahal saya,” kata Garin dalam syukuran persiapan syuting di Gereja Katolik Gedangan, Jalan Ronggowarsito Semarang, Jumat (4/11/2011).

Film yang ber-setting tahun 1940-1949 ini melibatkan 500 pemain dan 200 kru. Lokasi syutingnya di Semarang, Ambarawa, Klaten, dan Yogyakarta. Garin menilai ketokohan Soegijapranata sangat penting. Tidak hanya bagi umat Katolik, melainkan bangsa Indonesia. Tokoh ini mempunyai peran siginifikan dalam masa-masa krisis, menjelang dan awal-awal kemerdekaan.

Dalam sejarahnya, Soegijapranata diketahui menulis untuk media luar negeri sebagai bentuk silent diplomacy terhadap penjajah. Ia juga memindahkan Keuskupan Semarang ke Yogyakarta sebagai bentuk solidaritas atas kepindahan ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta, dan bernegosiasi dengan Jepang untuk gencatan senjata. “Konteksnya memang perang, tapi bukan perangnya, tapi babak-babak kesejarahannya,” katanya.

Sebelum menggarap film “Soegiya”, Garin melakukan riset, baik mengenai peran publik maupun kehidupan pribadi si tokoh. Ia ingin tokoh tersebut hadir sebagaimana konteks jamannya. Syuting film akan dimulai 7 Nopember mendatang di Semarang. Dimulai dengan adegan pentasbihan uskup hingga pertempuran 5 hari di Semarang. Syuting direncanakan usai pada 14 Nopember, lalu dilanjutkan ke beberapa kota lain di Jateng dan Yogyakarta.

Soegija diperankan Nirwan Dewanto, didukung presenter dan pemain sinetron Olga Lidya dan lain-lain. Untuk musik diserahkan ke Djaduk Ferianto. Diperkirakan Juni 2012, film ini bakal tayang di bioskop.

Dipublikasi di kampus seribu kisah | 3 Komentar

Kabinet Macan Tutul

Banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan bentuk pemerintahan RI yang terus berlarut-larut dalam keterpurukan ekonomi. Semakin parah sistem ekonomi, semakin bermunculan istilah-istilah penanda dan mencirikan pola pemerintahan yang tidak terencana, bahkan terkesan berpura-pura membangun negara. Dari pembuatan undang-undang, sosialisasi sampai praktek di lapangan, tidak pernah tertata dengan baik.

Uji materi undang-undang selalu berat sebelah, draf yang punya peluang kompromi yang bisa menang.  Kasus import sembako, garam, gula, buah-buahan dll.. bukti pemerintah tidak peduli rakyat yang memiliki berhektar-hektar tanah siap garap. Ini pertanda materi uji berkaitan komoditas vital hanya orang-orang kaya dan yang dekat di kursi pejabat yang diuntungkan. Pola transaksi yang kerap dilakukan seperti umpan ikan, yang penting disepakati soal marjin profitnya meskipun teramat kecil asal rutin ga jadi masalah dan yang tau kita (baca: pejabat) rakyat yang penting ngikut aja.

Pelanggaran melenakan dalam konteks  peningkatan pembangunan nasional yang lantang pesan sponsornya di gedung DPR atau di arena kampanye pemilu/pemilukada. Fripott contoh paling nyata rendahnya tingkat moral pejabat kita yang tidak mampu membuat keputusan yang menguntungkan. Kekayaan alam adalah aset tetap kebanggaan bangsa sekaligus deposito negara dengan prioritas hasil produk yang menguntungkan secara merata bagi segenap rakyat. Ketakutan mengubah format yang telah disepakati bersama, sebesar ketakutan pemerintah akan ancaman teroris. Padahal nyata-nyata sangat merugikan.

Dengan pertimbangan seperti ini, pola yang dipakai bagaimana limpahan sumber alam yang terpendam bisa tergali bukan bagaimana pemanfaatannya bisa maksimal. Sederhana saja, mengukur tingkat kepekaan moral sudah terbaca dari bagaimana penilaian hasil karyanya. Pola seperti ini pula, nyaris memberikan ruang nyaman bagi pejabat kita untuk berbagi keuntungan dan semua yang menjadi perangsang terjadinya kesepakatan, tentu modus Iming-iming atau menjanjikan sesuatu yang mewah adalah alat yang masih laku dijual belikan. Indonesia sampai detik ini di peringkat utama dalam ketekunan merawat modus ini dengan baik, sehingga pantas diwariskan anak-anak bangsa sebagai generasi penerus mereka.

Konsep ini secara kebetulan diadopsi dari masyarakat prrimitif yang tidak mengenal budaya dan tidak pernah belajar di sekolah. Hanya semata-mata kebutuhan perut yang mereka kejar sambil membunuh satu sama lain. Ironi sekali, kalau saja penegak demokrasi dan penyelenggara negara berperadaban masih terus meng-cloning budaya masyarakat purba animistis ini. Ketakutan Kancil terhadap ancaman serangan Macan tutul atau Cetta secara tiba-tiba dapat dibenarkan, ketika diri mereka tengah berada dalam bahaya.  Namun, kawanan Kancil tak mungkin mengelak saat semakin sadar bahwa ancaman gerombolan Macan dipengaruhi sifat rakus dan narsisme pamer keberanian (baca: kekayaan), dan karena itu si Kancil harus segera mencari tempat perlindungan meskipun pada akhirnya tempat persembunyiannya pun tercium juga.

Dengan kebijakan lain yang tersa indah, subsidi BBM, TDL (tarif dasar listrik), kemungkinan harga gas melonjak, bahan-bahan sembako tidak dapat ditekan kestabilannya, semua itu dan masih banyak kawannya, tidak dapat mengubah kemiskinan, gelandangan, dan kaum marjinal untuk hidup lebih baik. Perubahan terjadi hanya sebatas angka saja. Dari data-data berdasarkan survei yang dilakukan lembaga-lembaga terpercaya, seperti LSI dan Lingkar survei Indonesia, membenarkan tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja Kabinet Macan tutul ini semakin berkurang. Mereka tau hasil survei ini atau tidak, yang jelas, tingkat absensi kepedulian dan partisipasi masyarakat telah hilang dalam setiap kasus yang masuk ruang pengadilan yang bersinggungan dengan pejabat di semua tingkat dan di seluruh departemen. Logo yang mungkin pantas diangkat, ‘negara dalam kabut pembangunan yang semakin tebal ‘.

Alih-alih menyalakn lampu kuning reformasi, negara dari hari kehari semakin dibiarkan berjalan dalam kepentingan negara lain. Secara geografis, Indonesia bagian dari negara yang ada di dunia dengan tanda peta dunia yang teramat jelas, tapi, secara politis tidak ada. Kemampuan membangun dan mengembangkan adalah bagian inti sebuah proyek dan produk yang penting, dimana lemah kuatnya konstruksi proyek atau ada tidaknya sebuah proyek bergantung sangat kokoh atas kemampuan membangun dan mengembangkan. Andai dua kemampuan ini lenyap dari suatu obyek yang siap digarap, masih adakah yang disebut proyek atau produk? ia akan selalu berperan di zona Ketergantungan yang membuatnya jauh dari menapaki Kemandirian.

Dipublikasi di budaya | Tinggalkan komentar